Advertisement

Responsive Advertisement

Berpikir kritis dengan berpikir sebelum bertindak

- September 29, 2021

 Berpikir Sebelum Bertindak

Berpikir kritis

Mana yang paling benar, bertindak sebelum berpikir atau berpikir sebelum bertindak?  Jika ditelisik dari susunan katanya mungkin “Berpikir sebelum bertindak” adalah pilihan yang paling bijak, dan memang begitulah konteks yang sudah umum diketahui banyak orang dalam kehidupan bermasyarakat yang meyakini bahwa setiap tindakan mempunyai konsekuensi, dan setiap konsekuensinya perlu dipertanggung jawabkan, maka dari itu perlu dipikirkan terlebih dahulu dampak yang mungkin terjadi dari suatu perbuatan supaya pertanggung jawabannya nanti mudah dipertanggung jawabkan. Pepatah ini sudah lama eksis dan biasa ditemui dalam kumpulan kata-kata bijak di berbagai platform media sosial dan bahkan sudah dari dulu diajarkan guru di sekolah.

Namun konteks “Bertindak sebelum berpikir” juga perlu sebuah alasan yang bisa menjawab kenapa konteks ini tidak lebih bijak daripada konteks sebelumnya. Ada hal yang menarik dari kebalikan konteks itu yang mungkin bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari meskipun menyimpang dari konteks yang sudah ada sebelumnya, dan memang akan muncul berbagai alasan yang mencoba menjawab kenapa keterbalikan konteks itu tidak lebih bijak. Namun apakah salah jika bertindak dahulu sebelum berpikir?

Tuhan memberikan manusia sebuah kelebihan daripada sebagian makhluk ciptaannya, salah satunya adalah kecerdasan dan kemampuan berpikir untuk menentukan mana yang baik dan mana yang tidak. Semuanya dilakukan berdasarkan data yang sudah tersimpan di dalam otak manusia yang ia peroleh sebelumnya dari setiap pengalaman yang telah dilalui manusia sepanjang hidupnya dan terkumpul menjadi sebuah bank data di dalam otak, maka dari itu tidak perlu dianehkan lagi kalau setiap orang punya sifat dan karakter yang berbeda karena data yang dikumpulkan dalam otaknya juga berasal dari sumber yang berbeda-beda pula, tergantung dari lingkuangan dimana orang itu berada. Bank data inilah yang nantinya akan menjadi dasar dalam setiap tindakan yang akan diambil manusia melalui proses yang rumit dengan mempertimbangkan segala konsekuensi yang mungkin akan terjadi, bagaimana tanggapan orang lain kepadanya, apakah ini baik untuk dirinya atau merugikan dan lain sebagainya yang nantinya akan merujuk pada sebuah kesimpulan yang akan menjadi sebuah tindakan, proses inilah yang kita sebut dengan berpikir. Ada pepatah Sunda yang mengatakan “Kudu seubeuh memeh dahar, kudu nepi memeh indit.” Secara bahasa berarti “Harus kenyang sebelum makan, harus sampai sebelum berangkat.” Singkatnya pepatah Sunda itu dapat dimaknai sebagai keharusan untuk mengetahui sesuatu sebelum sesuatu itu terjadi, dengan kata lain manusia seharusnya telah mengetahui segala kemungkinan yang akan terjadi dari tindakannya walaupun tindakan itu belum dilakukan dan belum terjadi. Terdengar aneh, tapi itulah yang terjadi, seorang arsitek ketika membuat sebuah proyek jembatan maka dia akan memikirkan dan memproyeksikan jembatannya ketika sudah terbentuk nanti kedalam sebuah gambar design, dari gambar itu seorang arsitek dapat mempersiapkan segala yang dia butuhkan atau menghindari segala kemungkinan terjadinya kesalahan pondasi yang menyebabkan kerugian materil dan sebagainya. Semua itu dipikirkan seolah-olah sudah terjadi, manusia seakan-akan bisa pergi ke masa depan melihat hasil dari tindakannya kemudian kembali ke masa lalu dan mengoreksi setiap tindakan yang tidak seharusnya dilakukan sehingga menghasilkan sesuatu yang sempurna di masa depan.

Mengetahui apa yang terjadi di masa depan disini bukan dalam artian meramal melainkan hanya memprediksi, karena bagaimanapun juga masa depan adalah hal yang ghaib hanya Tuhanlah yang memiliki kuasa untuk mengetahui itu semua. Semua yang manusia lihat di masa depan hanyalah sebuah prediksi yang dianggap paling mungkin terjadi tetapi tidak menuntut kemungkinan juga jika yang diprediksikan tidak terjadi atau bahkan melenceng dari predikisi.

Ketidakpastian dari prediksi inilah yang membuat manusia menjadi lebih takut dan khawatir dalam mengambil suatu tindakan, maka bertambahlah suatu data dalam bank data di otak manusia yaitu kegagalan. Dalam proses berpikir, nantinya akan timbul suatu pertanyaan dalam diri manusia ketika suatu kesimpulan hampir didapatkan, yaitu “Bagaimana jika gagal?” Pertanyaan itu akan menghasilkan banyak sekali prediksi-prediksi baru yang dibuat sebaik mungkin oleh pemikiran manusia sebagai antisipasi dari sebuah kegagalan.

Oleh karena itu manusia akan dituntut oleh dirinya sendiri untuk berpikir lebih dalam lagi, memproyeksikan masa depan lebih detail lagi, dan lebih berhati-hati lagi dalam memutuskan sebuah tindakan. Semakin lama manusia memikirkan sebuah masa depan maka akan semakin dalam juga dirinya terjebak dalam pikirannya sendiri, inilah yang nantinya akan menyebabkan sesorang menjadi overthinking dan panjang angan-angan. Terjebak dalam proyeksi masa depan yang indah hasil proyeksinya sendiri yang semula dibuat berdasarkan bank data dari pengalaman-pengalaman yang terkumpul di otaknya untuk direalisasikan melalui sebuah tindakan perlahan akan berubah menjadi peroyeksi hasil khayalan dan angan-angannya sendiri.

Adanya kemungkinan terjebak dalam pikiran menjadikan keterbalikan dari pepatah “Berpikir sebelum bertindak” menjadi perlu dicoba penerapannya. Dalam proses terjadinya pemikiran di dalam otak manusia perlu rasanya diketahui kembali melalui pelajaran biologi SMA tentang sistem saraf. Otak bertanggung jawab memberi perintah kepada anggota tubuh untuk merespon segala sesuatu, tetapi perlu diingat bahwa otak tidak akan begitu saja memberi perintah tanpa ada penyebabnya, seperti tangan tidak akan memukul pipi jika tidak ada nyamuk atau lalat yang hinggap di pipi. Artinya perlu adanya pemicu dari luar tubuh manusia sebelum otak dapat merespon dan memberi perintah kepada anggota tubuh, dengan kata lain perlu adanya tindakan pertama yang akan menjadi pemicu dari tindakan-tindakan selanjutnya. Iniah yang menjadi maksud dari bertindak sebelum berpikir, untuk memulai segala sesuatu manusia harus mengambil langkah awal lalu memikirkan apa yang akan dilakukan selanjutnya.

Mungkin bertindak sebelum berpikir adalah sesuatu yang ceroboh, namun maksud darinya bisa bermakna lain jika dilihat dari perspektif yang lain. Jika terus terpaku kepada berpikir sebelum bertindak, mungkin manusia akan sulit berkembang karena terlalu sering memikirkan dari pada mengambil tindakan yang nyata sedangkan berpikir tidak akan ada batasnya. Dewasa ini orang-orang takut untuk memulai sesuatu karena sudah terlebih dahulu memikirkan kegagalannya, lalu berkesimpulan untuk tidak melakukan apa yang sudah dipikirkan oleh otaknya dan terus memikirkan rencana selanjutnya yang lebih sempurna dan begitulah seterusnya sampai manusia terjebak dalam angan-angannya.

 Sebagai makhluk ciptaan-Nya manusia tidak dituntut untuk mengetahui masa depan lewat pikiran dan prediksi-prediksi, biarlah masa depan itu menjadi rahasia tuhan, tugas manusia adalah terus berusaha dan berusaha dengan mengambil satu tindakan yang nyata, untuk hasil akhirnya itu semua adalah urusan tuhan yang maha kuasa.

 

 

Advertisement


EmoticonEmoticon

 

Start typing and press Enter to search