Berpikir Sebelum Bertindak
Mana yang paling benar, bertindak sebelum berpikir atau berpikir sebelum bertindak? Jika ditelisik dari susunan katanya mungkin “Berpikir sebelum bertindak” adalah pilihan yang paling bijak, dan memang begitulah konteks yang sudah umum diketahui banyak orang dalam kehidupan bermasyarakat yang meyakini bahwa setiap tindakan mempunyai konsekuensi, dan setiap konsekuensinya perlu dipertanggung jawabkan, maka dari itu perlu dipikirkan terlebih dahulu dampak yang mungkin terjadi dari suatu perbuatan supaya pertanggung jawabannya nanti mudah dipertanggung jawabkan. Pepatah ini sudah lama eksis dan biasa ditemui dalam kumpulan kata-kata bijak di berbagai platform media sosial dan bahkan sudah dari dulu diajarkan guru di sekolah.
Namun konteks
“Bertindak sebelum berpikir” juga perlu sebuah alasan yang bisa menjawab kenapa
konteks ini tidak lebih bijak daripada konteks sebelumnya. Ada hal yang menarik
dari kebalikan konteks itu yang mungkin bisa diterapkan dalam kehidupan
sehari-hari meskipun menyimpang dari konteks yang sudah ada sebelumnya, dan
memang akan muncul berbagai alasan yang mencoba menjawab kenapa keterbalikan
konteks itu tidak lebih bijak. Namun apakah salah jika bertindak dahulu sebelum
berpikir?
Tuhan memberikan manusia
sebuah kelebihan daripada sebagian makhluk ciptaannya, salah satunya adalah
kecerdasan dan kemampuan berpikir untuk menentukan mana yang baik dan mana yang
tidak. Semuanya dilakukan berdasarkan data yang sudah tersimpan di dalam otak
manusia yang ia peroleh sebelumnya dari setiap pengalaman yang telah dilalui
manusia sepanjang hidupnya dan terkumpul menjadi sebuah bank data di dalam otak,
maka dari itu tidak perlu dianehkan lagi kalau setiap orang punya sifat dan
karakter yang berbeda karena data yang dikumpulkan dalam otaknya juga berasal
dari sumber yang berbeda-beda pula, tergantung dari lingkuangan dimana orang
itu berada. Bank data inilah yang nantinya akan menjadi dasar dalam setiap
tindakan yang akan diambil manusia melalui proses yang rumit dengan
mempertimbangkan segala konsekuensi yang mungkin akan terjadi, bagaimana
tanggapan orang lain kepadanya, apakah ini baik untuk dirinya atau merugikan
dan lain sebagainya yang nantinya akan merujuk pada sebuah kesimpulan yang akan
menjadi sebuah tindakan, proses inilah yang kita sebut dengan berpikir. Ada
pepatah Sunda yang mengatakan “Kudu
seubeuh memeh dahar, kudu nepi memeh indit.” Secara bahasa berarti “Harus
kenyang sebelum makan, harus sampai sebelum berangkat.” Singkatnya pepatah
Sunda itu dapat dimaknai sebagai keharusan untuk mengetahui sesuatu sebelum
sesuatu itu terjadi, dengan kata lain manusia seharusnya telah mengetahui
segala kemungkinan yang akan terjadi dari tindakannya walaupun tindakan itu
belum dilakukan dan belum terjadi. Terdengar aneh, tapi itulah yang terjadi,
seorang arsitek ketika membuat sebuah proyek jembatan maka dia akan memikirkan
dan memproyeksikan jembatannya ketika sudah terbentuk nanti kedalam sebuah
gambar design, dari gambar itu seorang arsitek dapat mempersiapkan segala yang
dia butuhkan atau menghindari segala kemungkinan terjadinya kesalahan pondasi
yang menyebabkan kerugian materil dan sebagainya. Semua itu dipikirkan
seolah-olah sudah terjadi, manusia seakan-akan bisa pergi ke masa depan melihat
hasil dari tindakannya kemudian kembali ke masa lalu dan mengoreksi setiap
tindakan yang tidak seharusnya dilakukan sehingga menghasilkan sesuatu yang
sempurna di masa depan.
Mengetahui apa yang
terjadi di masa depan disini bukan dalam artian meramal melainkan hanya
memprediksi, karena bagaimanapun juga masa depan adalah hal yang ghaib hanya Tuhanlah yang memiliki kuasa
untuk mengetahui itu semua. Semua yang manusia lihat di masa depan hanyalah
sebuah prediksi yang dianggap paling mungkin terjadi tetapi tidak menuntut
kemungkinan juga jika yang diprediksikan tidak terjadi atau bahkan melenceng
dari predikisi.
Ketidakpastian dari
prediksi inilah yang membuat manusia menjadi lebih takut dan khawatir dalam
mengambil suatu tindakan, maka bertambahlah suatu data dalam bank data di otak
manusia yaitu kegagalan. Dalam proses berpikir, nantinya akan timbul suatu
pertanyaan dalam diri manusia ketika suatu kesimpulan hampir didapatkan, yaitu
“Bagaimana jika gagal?” Pertanyaan itu akan menghasilkan banyak sekali
prediksi-prediksi baru yang dibuat sebaik mungkin oleh pemikiran manusia
sebagai antisipasi dari sebuah kegagalan.
Oleh karena itu manusia
akan dituntut oleh dirinya sendiri untuk berpikir lebih dalam lagi,
memproyeksikan masa depan lebih detail lagi, dan lebih berhati-hati lagi dalam
memutuskan sebuah tindakan. Semakin lama manusia memikirkan sebuah masa depan
maka akan semakin dalam juga dirinya terjebak dalam pikirannya sendiri, inilah
yang nantinya akan menyebabkan sesorang menjadi overthinking dan panjang angan-angan. Terjebak dalam proyeksi masa
depan yang indah hasil proyeksinya sendiri yang semula dibuat berdasarkan bank
data dari pengalaman-pengalaman yang terkumpul di otaknya untuk direalisasikan
melalui sebuah tindakan perlahan akan berubah menjadi peroyeksi hasil khayalan
dan angan-angannya sendiri.
Adanya kemungkinan
terjebak dalam pikiran menjadikan keterbalikan dari pepatah “Berpikir sebelum
bertindak” menjadi perlu dicoba penerapannya. Dalam proses terjadinya pemikiran
di dalam otak manusia perlu rasanya diketahui kembali melalui pelajaran biologi
SMA tentang sistem saraf. Otak bertanggung jawab memberi perintah kepada anggota
tubuh untuk merespon segala sesuatu, tetapi perlu diingat bahwa otak tidak akan
begitu saja memberi perintah tanpa ada penyebabnya, seperti tangan tidak akan
memukul pipi jika tidak ada nyamuk atau lalat yang hinggap di pipi. Artinya
perlu adanya pemicu dari luar tubuh manusia sebelum otak dapat merespon dan
memberi perintah kepada anggota tubuh, dengan kata lain perlu adanya tindakan
pertama yang akan menjadi pemicu dari tindakan-tindakan selanjutnya. Iniah yang
menjadi maksud dari bertindak sebelum berpikir, untuk memulai segala sesuatu
manusia harus mengambil langkah awal lalu memikirkan apa yang akan dilakukan
selanjutnya.
Mungkin bertindak sebelum
berpikir adalah sesuatu yang ceroboh, namun maksud darinya bisa bermakna lain
jika dilihat dari perspektif yang lain. Jika terus terpaku kepada berpikir
sebelum bertindak, mungkin manusia akan sulit berkembang karena terlalu sering
memikirkan dari pada mengambil tindakan yang nyata sedangkan berpikir tidak
akan ada batasnya. Dewasa ini orang-orang takut untuk memulai sesuatu karena
sudah terlebih dahulu memikirkan kegagalannya, lalu berkesimpulan untuk tidak
melakukan apa yang sudah dipikirkan oleh otaknya dan terus memikirkan rencana
selanjutnya yang lebih sempurna dan begitulah seterusnya sampai manusia
terjebak dalam angan-angannya.
Sebagai makhluk ciptaan-Nya manusia tidak
dituntut untuk mengetahui masa depan lewat pikiran dan prediksi-prediksi,
biarlah masa depan itu menjadi rahasia tuhan, tugas manusia adalah terus
berusaha dan berusaha dengan mengambil satu tindakan yang nyata, untuk hasil
akhirnya itu semua adalah urusan tuhan yang maha kuasa.
EmoticonEmoticon